Laman

Keblinger

Keblinger
Tampilkan postingan dengan label ZONA INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ZONA INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

IBU....MULIAKANLAH DIRIMU DENGAN MERAWAT ANAKMU....

Kamis, 20 Desember 2012

Ibu Ainun Habibie :

"Mengapa saya tidak bekerja?
Bukankah saya dokter? Memang.
Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.
Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya
tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ? Anak saya akan tidak memiliki ibu.
Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi
tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu."
Jangan biarkan Anak² mu hanya bersama pengasuh mereka.

Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya?

~ Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga.
Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya.
Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya.
Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak2 bisa tumbuh dgn penuh perhatian, tdk hanya dalam hal akademik, tp jg utk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua.

Belajar dari kesuksesan orang2 hebat, selalu ada pengorbanan dari orang2 yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah.

Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia..
Just sharing :


Trims Buat : http://www.facebook.com/assacantik/posts/10200113979563006
Baca selengkapnya »

NGAPAIN SEKOLAH ,KALO AKHIRNYA ............

Senin, 03 Desember 2012

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang “salah kamar”. Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.

Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.

Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.

Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?

Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.

Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.

Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. “Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.

Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? “Mudah saja,” ujar dekan itu. “Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,”ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.

Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.

Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stressnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? “undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di New Zealand.

Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? “itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, test masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.

Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.

Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.

Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.

Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, “Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.

Rhenald Kasali
Ketua Program MMUI
Baca selengkapnya »

SAATNYA BELAJAR MENYENANGKAN !

Rabu, 24 Oktober 2012
Yah anda baru tahukah jika setiap anak itu jenius ?
Untuk Melatih kejeniusan anak anak kita.
Kami sajikan beberapa free permainan yang melatih semua kecerdasan anak anda.
Yah..its FREE !!!

Anak-anak Anda bisa diarahkan untuk bermain sambil belajar di  : ( Arahkan Pointer ke Tulisan lalu klik...)
Fun English  ( KLIK YA )
Magic Draw 
Matematikan Lucu 
Belajar Membaca 
Asiknya Membaca 
Bahasa Inggris Nyentrik 
Bahasa Inggris Badan 
Puzzle Asyik 
Membaca lagi yuk 
Belajar Binatang 
Belajar Bintang 
Games Mobil 
Games Matematika 
Main Produksi 
Belajar Penghijauan 
Belajar Arab Anak Anak
Reading Guide 
Find Reading
Reading A-Z
Belajar Science
Jurnal Anak Muslim 
Educator 
Words & Picture 
Rumah Sains
Oxfords Guides
Aneka Ide Permainan 
HomeSchooling 

SANGAT BERMANFAAT BUKAN /?
Ayooo...Lejitkan Potensi Anak Anda Sekarang !!!



Baca selengkapnya »

KEAJAIBAN CERDAS MATEMATIKA ?

Jumat, 12 Oktober 2012

belajar hidup lebih baik dari keajaiban matematic,
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 + 10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

gimana? masih belum hebat?
coba lihat simetri ini,

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 123456789876543 21

masih biasa?
sekarang lihat ini,

jika ABCDEFGHIJKLMNO PQRSTUVWXYZ

disamakan sebagai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Maka, kata KERJA KERAS bernilai :
11 + 5 + 18 + 10 + 1 + 11 + 5 + 18 + 19 + 1 = 99%

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + !5 + 18 + 11 = 99%

K-N-O-W-L-E-D-G -E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96%

A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100%

Sikap diri atau ATTITUDE adalah perkara utama untuk mencapai 100% dalam hidup kita. Jika kita kerja keras sekalipun tapi tidak ada ATTITUDE yang positif didalam diri, kita masih belum mencapai 100%.

Tapi, LOVE OF GOD
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%

atau, SAYANG ALLAH (SWT)
19 + 1 + 25 + 1 + 14 + 7 + 1 + 12 + 12 + 1 + 8 = 101%

(artinya, Cinta & Kasih Sayank ALLAH melampaui Segalanya..)
Baca selengkapnya »

MENGINTIP KECERDASAN ANAK SEJAK DINI !

Kamis, 23 Agustus 2012

Apakah si Upik yang sudah pandai bicara dan berhitung di usia 2 tahun bisa dibilang anak cerdas? Bagaimana dengan anak yang telah lancar membaca di usia 4 tahun, layakkah disebut cerdas?

Inteligensi yang tinggi seringkali dikaitkan dengan orang yang punya kemampuan secerdas Albert Einstein. Padahal, hingga saat ini belum ada ahli yang bisa merumuskan definisi kecerdasan dengan tepat. 

Meski belum ada definisi pasti mengenai kecerdasan, menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, secara umum kecerdasan merupakan kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, dan memecahkan masalah serta melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya.

Apa saja tugas-tugas kognitif tingkat tinggi itu? "Kemampuan berbahasa, daya ingat yang baik, mampu memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis atau menalar," kata psikolog yang akrab disapa Vera ini. 

Tentu saja, kecerdasan pada bayi usia di atas lima tahun tidak sama dengan kecerdasan pada balita. Pada usia bayi, kecerdasannya masih seputar perkembangan kemampuan motorik dan bahasa. Sedangkan pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal dan sosial. Bila anak menunjukkan kemampuan yang melebihi anak seusianya, dapat dikatakan ia memiliki kapasitas belajar yang baik alias cerdas.

Kecerdasan pada anak bisa dideteksi sejak dini, bahkan sejak ia baru lahir. Untuk mengukurnya, orangtua perlu memahami status perkembangan yang normal pada bayi dan balita. Misalnya saja pada usia 6 bulan, bayi seharusnya mampu belajar duduk dan bisa memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. 

Atau anak usia dua tahun seharusnya sudah mulai berkomunikasi dengan kata-kata, serta penuh rasa ingin tahu. "Orangtua harus peka dan bisa mendeteksi sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya. Kalau ada keterlambatan, langsung diwaspadai apakah tumbuh kembangnya terhambat atau memang orangtua kurang menstimulasi," kata Vera. 

Sebagai pedoman, ada beberapa tahap perkembangan yang dianggap normal dalam arti sudah bisa dikuasai oleh anak pada usia tertentu. 

0-3 bulan: 
Hanya menampilkan respons refleks atas stimulus. Bahasa yang dikuasai hanyalah berupa tangisan.

4 bulan: 
Mulai memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri dan menunjukkan awal mula kemampuan motorik halus. Mulai mampu merespons secara sosial dengan senyuman dan bunyi-bunyian.

6 bulan: 
Mulai belajar duduk dan merangkak. Sudah memiliki kemampuan mengontrol gerakan tangan sehingga mampu memegang benda kecil atau makan kue yang diberikan. Bahkan sudah memiliki kemampuan koordinasi mata dan tangan untuk menggapai benda.

9 bulan: 
Sudah mulai mampu menggunakna jari jemarinya untuk makan sendiri. Mulai mencoba merangkak dan berdiri. Mencoba menggunakan kata atau suku kata sederhana.

12 bulan (tahun pertama): 
Terlihat perkembangan yang cukup pesat pada anak dan ia mulai menunjukkan kemampuan menguasai berbagai hal.

Tahun ke-2: 
Mulai independent, senang mengeksplorasi, penuh rasa ingin tahu, mencoba berbagai kemampuan baru, berkomunikasi dengan kata-kata, mencoba memahami sebab-akibat melalui kemampuan motorik, dan menguasai proses belajar dalam arti yang sesungguhnya.

Tahun ke-3: 
Anak sudah menunjukkan penguasaan yang jauh lebih baik pada berbagai alat untuk belajar, seperti bahasa, ingatan, kemampuan motor, dan perasaan tentang dirinya sendiri.

Tahun ke-4 dan ke-5: 
Kemampuan belajar anak jauh lebih berkembang sehingga memungkinkan ia menerima proses belajar secara formal.
Baca selengkapnya »

YAKIN ANAK ANDA BERBAKAT ?




Apakah Anak Anda Berbakat ?

Jika Anda belum yakin mengenai hal ini,analisa sidik jari analisajari.com bisa membantu untuk menguak potensi genetis,bakat dan karakter anak anda.Bahkan Anda sendiri jika Anda berminat ? 

Namun,sebelumnya ijinkan saya untuk sharing kepada Anda...
Baru baru ini ada artikel menarik yang saya dapati dari Times Asia yang berjudul " Superkids ".Wow jadi ingat sama Superman ya he he...

Superkids ? apa yang menarik.
Ini profil tujuh dari anak-anak Asia yang paling berbakat. Abigail Sin (10 tahun) anak seusia ini adalah seorang adalah pianis muda dari Singapura; 
Chandra Sekar (12 tahun) dari India termuda di dunia Microsoft Certified Systems Engineer, Ai Fukuhara (14 tahun) sekarang pelatihan untuk Olimpiade mendatang di Athena dan dianggap Tiger Woods tenis meja Jepang.
Dan setrusnya...
daftar orang-orang muda yang sangat berbakat yang datang dari semua kelompok etnis, ras, tingkat ekonomi dan wilayah geografis. Kemudian Banyak orangtua  bertanya-tanya seperti anda, apakah  anak-anak berbakat itu lahir atau hasil dari dipelihara?

Kamus Merriam Webster Collegiate yang mendefinisikan "berbakat" sebagai:
1. Memiliki kemampuan alami yang hebat
2. Mengungkapkan suatu something spesial !

Anak anak "Berbakat" telah didefinisikan sebagai orang "yang secara alami memiliki kemampuan yang luar biasa dan  kinerja tinggi". Istilah "kemampuan yang luar biasa" mengacu pada kemampuan intelektual umum, bakat akademik spesifik, kemampuan kepemimpinan, kemampuan dalam seni visual atau melakukan, berpikir kreatif, atau kemampuan atletik.

Kebanyakan anak-anak berbakat menampilkan tingkat konsentrasi dan kapasitas memori yang lebih tinggi. Tidak ada anak berbakat yang khas, untuk bakat dan lingkungan sosial  tertentu  menimbulkan pola kepribadian yang bervariasi. Pola Prestasi juga bervariasi. 
Perbedaan antara mereka akan ditemukan, bahkan ketika mereka dikelompokkan bersama-sama. Beberapa sangat kuat dalam satu subjek dan lemah pada orang lain. Para matematikawan rata-rata mungkin berbakat menjadi  pembaca, seniman  berbakat mungkin menjadi KO di matematika.Contohnya anda mungkin he he...

Karakteristik  Umum pada anak-anak berbakat 
Dalam dunia bisnis, studi manajemen banyak upaya untuk menemukan ciri-ciri dan karakteristik dari pemimpin perusahaan yang sukses, dengan percaya bahwa pemimpin dapat dipelihara dan dilatih. 
Demikian juga, ada juga kualitas dan karakteristik yang sering ditemukan di antara anak-anak berbakat, meskipun tidak mungkin dimiliki oleh semua anak. Salah satu cara yang orang tua dapat mengetahui apakah anak mereka mungkin berbakat adalah fokus pada berbagai perilaku yang terjadi didalam percakapan sehari-hari, kegiatan, dan tanggapan terhadap kesempatan belajar. Nah dalam perkembangan tehnology cara mengukur kecerdasan cara ini masuk dalam ranah pengamatan...

Berikut ini adalah daftar karakteristik umum anak anak berbakat di usia 4,5,6 tahun (Smutny, 2000):
1.
Mengungkapkan rasa ingin tahu kepada banyak hal ( cerewet banyak nanya ! )
2.
MengAjukan pertanyaan dengan bijaksana ( hei...ini anak usia balita lho ) 
3.
Memiliki kosakata yang luas dan menggunakan struktur kalimat yang kompleks
4.
Mampu mengekspresikan diri dengan baik
5.
Memecahkan masalah dengan cara yang unik
6.
Memiliki ingatan yang baik
7.
Menunjukkan bakat luar biasa dalam seni, musik, atau drama kreatif
8.
Memiliki imajinias asli yang tinggi ( sering bercerita dengan media apa saja ) 
9.
Menggunakan hal-hal yang sebelumnya dipelajari dalam konteks baru
10.
Dapat memesan hal-hal dalam urutan yang logis
11.
Senang Diskusi dan menguraikan ide-ide
12.
Adalah pembelajar cepat
13.
Keinginan untuk bekerja secara independen dan mengambil inisiatif
14.
Bukti kecerdasan dan humor
15.
Memiliki rentang perhatian yang berkelanjutan dan bersedia untuk bertahan pada tugas-tugas yang menantang
16.
Sangat jeli
17.
Tampilkan bakat dalam mengarang cerita dan mengatakan kepada mereka
18.
Tertarik untuk membaca.
Seorang anak berbakat mungkin tidak menunjukkan semua karakteristik di atas sepanjang waktu, tetapi orangtua dan profesional umumnya akan melihat pola ketika mengamati selama jangka waktu tertentu.

Dalam perkembangan selanjutnya arah perkembangan pengukuran kecerdasan kemudian : 
  1. Pengamatan ( metode murah ) namun metode trial & error perlu waktu lama 
  2. Test IQ ( Sangat Subjektive ) Jika kurang dianggap bodoh jika lebih maka cerdas 
  3. Psikotest Modern ( situsional ) masih bisa di stimulus 
  4. Psikobiometric ...sangat objective BUKAN VONIS BUKAN RAMALAN namun hanya sebagai acuan peta sukses.Jika biayanya sangat terjangkau  CUKUP 1 x seumur idup.Saya pikir jika anda mengatakan ini mahal.Apa boleh jika saya berpikir Anda keterlaluan...? Sementara untuk kebutuhan pulsa anda sebulan bisa lebih dari itu bukan ?
Baca selengkapnya »

SIAP PENSIUN ????


Seorang teman mengatakan, ia jadi dokter karena sampai mati tidak bakal pensiun. Saat mendengar itu, saya terhenyak, karena gaya hidup sekarang bisa jadi hilang saat mencapai usia 55 tahun.

Apa pun latar belakang Anda, saya yakin, semua tidak rela jika gaya hidup modern yang dijalani terpaksa dipangkas akibat lalai mempersiapkan pensiun. Daripada pusing, mari simak tulisan sang perencana keuangan  berikut ini!

Langkah awal menuju pensiun

Masa pensiun bisa jadi merupakan waktu terlama dalam hidup Anda tanpa punya pekerjaan tetap dan penghasilan yang tetap. Berbeda dengan merencanakan punya rumah misalnya, merencanakan pensiun sedikit lebih rumit, karena keberhasilan perencanaan Anda tidak hanya tergantung dari berapa saldo pundi-pundi yang terkumpul saat hari pensiun, tapi juga berapa banyak yang Anda pakai setiap tahun di masa pensiun.
Sebuah riset dari bank asing mengungkap fenomena menarik bahwa orang Asia tergolong orang yang paling masa bodoh urusan pensiun. Jangka waktu yang kita siapkan hanyalah 5 tahun. Jadi, pensiun usia 55 tahun, dana sudah habis di usia 60 tahun. Pendahulu kita mungkin bisa mengandalkan keturunan untuk mengurus mereka di masa pensiun. Sadarlah, zaman sudah berubah dan generasi muda menghadapi tantangan hidup yang lebih berat.

Langkah pertama, tentukan kapan Anda mau pensiun. Buat Anda yang karyawan, usia 45-55 tahun bisa jadi pilihan. Sedangkan jika Anda adalah seorang wirausaha atau pekerja profesi, mungkin berhenti bekerja secara langsung di usia 60-65 tahun. Misal Andi, 35 tahun dan mau pensiun di usia 50 tahun, maka Andi punya 15 tahun untuk mengumpulkan pundi pensiun.

Setelah itu, tentukan berapa lama Anda berencana mendanai gaya hidup di masa pensiun. Maksudnya, sampai usia berapa Anda berencana untuk mandiri secara finansial dengan gaya hidup yang diinginkan. Target yang dipasang biasanya antara usia 75-80 tahun, tergantung angka harapan hidup seseorang.
Berikutnya adalah menentukan berapa kisaran biaya hidup yang diinginkan saat Anda pensiun. Paling mudah menggunakan angka 100% dari biaya hidup masa kini.

Secara umum, biaya-biaya yang akan menurun saat pensiun adalah biaya transportasi, biaya rumah tangga jika anak-anak sudah menikah dan tidak menumpang orangtua. Adapun, biaya-biaya yang mungkin meningkat adalah biaya kesehatan, berlibur, dan hadiah. Untuk Andi yang punya target biaya hidup Rp 10 juta per bulan, maka saldo dana pensiun yang dibutuhkan sebesar Rp 9,5 miliar!

Bebas secara finansial
Saran terbaik yang dapat diberikan adalah mencari penghasilan pasif untuk menutup biaya hidup di masa pensiun. Sumber dana pensiun Anda saat ini umumnya dari saldo JHT Jamsostek, saldo DPPK atau DPLK dari perusahaan, dan tentu saja aset pribadi Anda.

Secara statistik, mereka yang bisa hidup nyaman di masa pensiun adalah mereka yang punya penghasilan pasif dari aset investasinya. Jika semua biaya hidup di masa pensiun dapat tertutup oleh penghasilan pasif, maka Anda sudah bebas secara finansial alias mencapai kondisi financial freedom.

Aset likuid yang dapat memberikan penghasilan pasif contohnya adalah hidup dari bagi hasil deposito, dan mengambil selisih keuntungan dari hasil investasi reksadana atau pun saham. Jadi, modal dasar investasi tidak pernah ditarik.

Berkebalikan, jika Anda memilih untuk punya aset tidak likuid, seperti properti. Usahakan agar aset ini produktif, seperti menjadikannya rumah kost, rumah toko, perkebunan jati emas, atau sawah. Alternatif lain, punya bisnis atau usaha yang dijalankan oleh orang lain, sehingga Anda mendapat keuntungan tiap bulan.
Dengan membaca artikel ini hingga habis, setidaknya Anda mulai terpikir untuk merencanakan masa pensiun yang indah. Langkah berikutnya membuat rencana pensiun, dan melakukan implementasi yang sesuai. Ingat, sebagian dari penghasilan yang diperoleh saat ini merupakan hak untuk hidup sejahtera di masa depan. Jadi, sudah siap untuk pensiun? Live a beautiful life!

" Hendaknya Tiap Diri Memperhatikan Masa Depannya "

www.analisajari.com
bekerjasama dengan Financial Consultant akan sharing dengan Anda di ILMU
Baca selengkapnya »

ANAKNYA MAU DISEKOLAHKAN DIMANA BU ? CENAT CENUT !


Apa yang terbayang di benak Anda ketika tahun ajaran baru sekolah tiba? Niscaya hati kecil Anda akan mengatakan biaya pendidikan atau uang masuk sekolah tahun ini lebih mahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.bukan ?

Pernahkah anda berpikir ketika sekolah dulu berapa spp anda ? berapa biaya yang dikelauarkan oleh orang tua anda kala itu ?
Sekarang bagaimana ? Ehm...tentu semakin cenat cenut mikirin ini bukan ?

Suatu ketika saya diajak adik saya owner sebuah bimbel kelas kakap di surabaya.Waktu itu saya iseng ngambil brosur tentang lembaga pendidikan tersebut.
Saya baca-baca dan betapa saya tercenung karenanya.
Untuk 'menambah" ilmu yang katanya gak masuk masuk waktu disekolahan maka ortu memasukkan anaknya ke sebuah lembaga atau les privat yang biayanya.....aduh saya semper bingung kalau saya ngitung pakai logika seorang tukang becak.Ampun mahalnya !
Belum lagi yang disounding dihampir semua brosur lembaga pendidikan itu yang...yah jurusan dokterlah...yang...arsiteklah..yang....psikologlah....dan yang aneh yang jurusan musik,bahasa,spiritual kok ya gak didengungkan ya.?
Yah jelas gaklah...kalau untuk musik saja genjreng genjreng pakai gitar kan cukup alias lewat ngamenpun bisa ? OOoo...

Sekedar catatan sebagai seorang yang saat ini saya mau mendamarbaktikan diri ini ( ciee....) dibidang sdm soal keunikan tiap individu saya mau kasih catatan kepada anda soal fenomena ini....

Pertama,
Ke Lembaga Pendidikan.
Jauh direlung hati saya sejak saya sma saya berpikir kenapa kok yah ; kan saya sekolah mau pintar n tahu ilmu lha kok malah disuruh sekolah lagi dan bayar lagi disekolah lembaga pendidikan ?
Alhamdulilah, lagi-lagi bukan alibi emang dari sononya... sekarang saya ngomongnya pakai emang dari sidik jarinya saya ini emang type suka bikin tantangan dan suka meledak2 ledak..waktu itu saya cuman bertekad...teman teman saya silakan beli buku apa saja....temen temen saya boleh kursus dimana saja...tapi saya bertekad saya akan lebih baik dari mereka minimal sama walau saya cukup belajar disekolahan thok dan bukunya cuman FOTOKOPiYAN dan ANTRE di perpus.Anda boleh sidak ke temen2 sma saya untuk soal yang satu ini....
Disini,Mengetahui pola gaya belajar akan membantu tiap siswa dan diri kita untuk lebih cepat paham pelajaran.

Waktu sma emang saya gak tahu pola belajar saya itu kuat di visual kemudian kiniestetik kemudian ke audio.
Waktu itu saya cuman tahu kalau mau cepat paham saya harus nulis lagi semua buku yang saya baca ke kertas buram...bikin ala brainstrorming...( ujung2nya di kalbe farma di ikutkan training dengan biaya wah ! ha ha )....trus kadang2 bergaya ala presenter berita bla...bla.....
Akhirnya sukseslah belajar saya....lagi lagi dasarnya emang saya gak happy jika menjadi nomer satu...bagi saya nomer 2 atau ranking 10 besar cukuplah.....
Artinya apa ? untuk sukses belajar temen temen sma/yang lagi sekolah tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum,lembaga ini lah itulah...tapi pelajarilah dulu pola gaya belajar anda dulu dominan atau kuat dimana baru putuskan mau serius dimana....Ok ?

Kemudian setelah ke pribadi saya mau share ke para pendidiknya.
Yah namanya juga pendidik kan mesthi tahu bahwa gaya belajar tiap murid itu berbeda2.bahwa kecepatan menerima dan merespon informasi tiap individu itu beda2 makanya tiap individu itu perlu metode yang berbeda pua.Gak monoton gitu...
seandainya semua guru paham gaya ngajarnya dan gaya belajar tiap muridnya itu beda-beda tentu insyaALLAH semua muridnya akan happy.Emang perlu waktu dan kesabaran....

Kedua.( Hallo hampir lupa ya padahala anda tadi anda saya bawa baru ke pembahasan ranah pertama ...sepertinya kok sudah lama ya....)
Yang kedua adalah soal jurusan....
Jujur ketika anda ditanya kejuruan apa yang anda pilih ,ketika itu motivasi apa yang mendasarinya ?
Seorang temen menjawab, karena suka ilmunya tanpa tahu bahwa bakatnya justru yang berperanlah nantinya.
Kemudian jika saya perhatikan...mohon maaf berapa banyak kawan kawan yang sekolah yang kuliah hanya karena ( kedepan ingin kerja ) atau karena gak ada pilihan atau karena pilihan paling mudah...alih alih bukan karena bakat / talent yang dimiliki kebanyakan dari mereka bekerja bukan pada expert atau skill yang mereka pelajari disekolah.Anda bisa bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah yang kenyataannya ilmunya gak kepake itu......
Bandingkan jika semua siswa sma yang mau kuliah tahu talent bakat potensi yang dimilikinya maka penjurusan tentu akan semakin optimal dan expertnya akan mudah diraih.....
Nah disinilah analisa sidik jari membantu menguak potensi genetis anda.

KETIGA.
Soal biaya ? Nah semakin naik dan semakin bikin cenat cenut bukan ?
Pendapat Anda memang tidak salah. Biaya pendidikan selalu melonjak setiap tahun. Bahkan, kenaikannya bisa dua kali lipat atau lebih dari laju inflasi. Lalu, apa faktor penyebab inflasi biaya pendidikan?

Pertama, inflasi biaya pendidikan dipicu inflasi ekonomi. yang utama berkaitan dengan kebutuhan pokok (sembako). "Jika harga sembako mahal, gaji guru juga kian mahal. Harga kebutuhan lain, seperti bahan bangunan untuk fasilitas sekolah, ikut naik. Semua itu menyebabkan pihak sekolah mendongkrak biaya pendidikan,".Apakah setujudengan pendapat ini ibu ibu ?

Kedua, faktor pemicu inflasi biaya pendidikan adalah kurikulum sekolah tujuan.Jika boleh ngomong standar kurikulum sekolah umum, sekolah alam, atau sekolah internasional, memiliki perbedaan. Metode pembelajaran di sekolah bertaraf internasional biasanya bukan cuma mengacu kepada keterampilan ilmu pasti, namun juga kepada personal skill para siswa.
Tidak semua siswa memiliki skill dan bakat yang sama. Untuk menemukan bakat siswa, butuh waktu untuk pendekatan yang intensif. Nah,semakin terbukti bagus kurikulum yang ditawarkan sebuah sekolah, maka akan semakin mahal tarif biaya pendidikannya.CUMAN untuk yang satu ini silakan anda mengucapkan syukur karena Global Sinergi dengan Fingerprint Consulting dan Analisa Sidik Jari dengan cukup murah mampu menguak potensi bakat karakter dan potensi anda dan anak anda.Hubungi kami ya....

Ketiga, penyebab inflasi adalah fasilitas yang ditawarkan. Semakin lengkap fasilitas sebuah lembaga sekolah, semakin mahal pula biaya pendidikan di sekolah itu. Dan, jika semakin banyak lulusan dari sebuah sekolah yang memiliki penghasilan bagus, ranking sekolah itu akan semakin tinggi.

Lalu, bagaimana cara menghitung inflasi biaya pendidikan? Berikut ini adalah sejumlah tip sederhana yang diangkum dari University of Life ala Cak Hadi....( Bersambung ! 
Baca selengkapnya »

ANAKNYA MAU DISEKOLAHKAN DIMANA BU ? CENAT CENUT ! ( 2 )

Lalu, bagaimana cara menghitung inflasi biaya pendidikan? Berikut ini adalah sejumlah tip sederhana yang diangkum dari University of Life ala Cak Hadi....

Tentukan jenjang pendidikan anak

Sebelum melakukan perhitungan inflasi biaya pendidikan anak, terlebih dahulu Anda harus menghitung atau memperkirakan jenjang pendidikan yang kelak akan dilalui sang buah hati. Jenjang pendidikan diawali dari play group, taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan jenjang perguruan tinggi.

Nah, penentuan jenjang pendidikan ini dilakukan berdasarkan umur anak Anda. Katakanlah, usia anak saat ini baru menginjak dua tahun, dan Anda berencana mempersiapkan biaya pendidikan untuk jenjang SMA. Maka, usia anak Anda ketika masuk SMA diperkirakan 16 tahun.

Menghitung jenjang pendidikan bertujuan untuk menentukan time horizon investasi biaya pendidikan yang dibutuhkan ketika anak memasuki sebuah jenjang pendidikan. Langkah ini akan memudahkan Anda dalam menghitung atau memperkirakan biaya pendidikan anak kelak.

Tentukan sekolah tujuan anak

Langkah selanjutnya adalah menentukan sekolah tujuan. Langkah ini berguna mengukur kemampuan finansial Anda dalam memenuhi biaya pendidikan anak ketika menempuh jenjang pendidikan di sekolah yang jadi tujuan. Maklum, kenaikan biaya pendidikan di setiap lembaga sekolah berbeda.
Contohnya, biaya pendidikan kuliah di universitas dalam negeri dengan universitas di Amerika Serikat. Selain karena faktor biaya hidup, perbedaan juga terletak pada tingkat inflasi ekonomi dan nilai mata uang yang digunakan.

Menentukan sekolah tujuan anak juga berguna sebagai dasar mendapatkan informasi berapa biaya pendidikan yang dibutuhkan. Nah, biaya itu meliputi biaya masuk sekolah, SPP sekolah, buku dan perlengkapan sekolah, akomodasi seperti tempat tinggal, kebutuhan hidup, transportasi, dan komunikasi.

Di luar urusan biaya,  supaya orangtua juga menyesuaikan sekolah tujuan dengan visi pendidikan anak yang diinginkan orangtua.
Biaya pendidikan sekolah anak terus melonjak setiap tahun. Bahkan, kenaikannya bisa jauh melewati angka inflasi. Bagaimana langkah menghitung inflasi biaya pendidikan ini agar sesuai dengan kebutuhan saat anak masuk sekolah?

Mencari tahu biaya pendidikan di sekolah tujuan anak

Demi menghindari kesalahan perhitungan biaya pendidikan yang harus Anda siapkan, Anda mencari informasi sebanyak mungkin sebagai bahan referensi dalam menentukan dana pendidikan anak.
Caranya, bisa dengan mengecek di website sekolah tujuan atau menanyakan langsung ke bagian administrasi sekolah, kunjungan ke sekolah untuk menanyakan informasi kepada orangtua atau murid di sekolah tujuan itu.

Dan beberapa sekolah di dalam maupun luar negeri dengan pengalaman beroperasi yang mapan biasanya menyediakan informasi biaya yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan maupun akomodasi siswa. Beberapa sekolah bahkan mencantumkan biaya yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan di jaringan website.

Namun, kebanyakan sekolah hanya menyediakan informasi mengenai biaya-biaya yang berkaitan dengan kegiatan sekolah. Sementara itu, biaya akomodasi dapat diperoleh dengan dengan mencari informasi dari keluarga, teman, atau siapa pun yang dapat dipercaya untuk memperoleh informasi yang akurat tentang biaya-biaya tersebut.

Carilah informasi mengenai biaya-biaya tersebut sejak sekarang meskipun anak Anda baru akan bersekolah beberapa tahun lagi. Sebab, Anda harus mencicil investasi biaya pendidikan anak Anda sejak sekarang. Berdasarkan data inilah, Anda bisa memperkirakan berapa dana yang harus Anda sisihkan saban bulan dan instrumen investasi apa yang tepat untuk mencapai tujuan ini.

Tentukan asumsi perhitungan inflasi

Kita memang tidak bisa memastikan jumlah biaya pendidikan anak kita kelak. Yang bisa kita lakukan adalah menggunakan asumsi tertentu. Dengan asumsi inflasi ini, kita mengalikan biaya pendidikan saat ini dan berapa tahun lagi anak kita masuk ke sekolah tersebut.

Ada beberapa pendekatan menentukan asumsi inflasi biaya pendidikan. Pertama, memakai asumsi umum, Jadi, inflasi biaya pendidikan dianggap setara dengan inflasi ekonomi. Jika inflasi nasional kita 6%, biaya pendidikan juga diasumsikan naik rata-rata 6%. Tapi, asumsi ini kerap meleset.

Kedua, memakai asumsi inflasi ekonomi, tapi dikalikan dua. Misal, angka inflasi ekonomi negara 6% per tahun, maka rata-rata angka inflasi biaya pendidikan diasumsikan 12% per tahun.
Ketiga, menggunakan asumsi usia anak. Semakin panjang jangka waktu mempersiapkan biaya pendidikan, dan Anda ingin merasa nyaman dalam mempersiapkan biaya sekolah anak, maka asumsi angka inflasi bisa dinaikkan. Sebaliknya, makin pendek jangka waktu persiapan, makin kecil asumsi inflasi yang digunakan.

Metode yang terbaik adalah, setelah mengetahui total biaya di sekolah yang Anda idamkan, cari tahu juga berapa kenaikan biaya pendidikan setiap tahun di sekolah tersebut. Asal tahu, setiap sekolah punya standar kenaikan biaya pendidikan yang berbeda-beda. Dengan angka inilah, Anda bisa menghitung secara lebih tepat biaya pendidikan anak Anda kelak.

Cara menghitung biaya pendidikan anak

Untuk menghitung dan memperkirakan jumlah biaya pendidikan anak Anda di masa depan, ada beberapa langkah yang bisa digunakan. Sebagai contoh, Anda akan mempersiapkan biaya pendidikan anak untuk masuk jenjang sekolah menengah atas (SMA).

Ambil contoh, saat ini anak Anda baru berusia dua tahun. Dengan asumsi usia anak Anda ketika masuk SMA 16 tahun, masih ada waktu 14 tahun buat Anda untuk menyiapkan biayanya. Lalu, bagaimana cara menghitung biaya sekolah yang dibutuhkan saat anak Anda masuk SMA?

Untuk menghitung biaya yang dibutuhkan, Anda bisa menggunakan rumus future value: Biaya x (1+i)n.

Biaya dalam rumus itu adalah standar uang pangkal masuk sekolah tujuan saat ini. Sedangkan angka 1 di dalam kurung merupakan bilangan sederhana guna memudahkan Anda melakukan perkalian memperkirakan jumlah biaya pendidikan. Huruf i adalah tingkat inflasi pendidikan.

Adapun huruf n kecil yang berada di luar kurung adalah selisih atau jangka waktu tahun sekarang hingga tahun yang akan datang ketika anak Anda masuk SMA pada usia 16 tahun. Jadi, berapa biaya yang harus Anda siapkan untuk biaya anak masuk SMA?

Taruh kata kini standar uang pangkal masuk SMA impian Anda Rp 10 juta. Sebagai acuan inflasi pendidikan, Anda bisa menggunakan asumsi saban tahun biaya pendidikan naik 15%.
Berdasarkan rumusan tersebut, biaya pendidikan masuk SMA anak Anda 14 tahun mendatang Rp 70,76 juta. Tentu tidak akan persis betul, tapi cukup bermanfaat untuk memperkirakan secara jelas kebutuhan biaya pendidikan anak Anda di masa depan. Anda bisa siap-siap, kan?

Bagaimana menyiapkannya ?
Anda bisa lewat pembukaan reksadana unitlink atau menambah penghasilan tertentu kemudian menabungnya.....
Apa itu unitlink ? Ntar dibahas lagi ya....
Oya ini lho kerugian Anda jika tidak ikut analisa sidik jari ....

  1. Rugi waktu yah berapa waktu sia-sia yang anda korbankan 
  2. Rugi biaya : yang ini silakan dikalkulasi sendiri
  3. Hilang peluang : Nah jika anda paham talent anda kenapa tidak memanfaatkan yang ini saja 
  4. Capek bro selalu coba coba tau ?
  5. Sorry PROMO biaya analisa sidik jari Rp 250.000,nya di HAPUS ...baru tahu rasa.
Menyiapkan Dana , sadja sekali seoemur hidoep untuk supaya gak kehilangan semua itu ,kalau gak anda lakukan yo....kok cek nemene....he he....

Otre semoga bermanfaat !

Cak Hadi For www.analisajari.com 
Baca selengkapnya »
 
free counters

KATEGORI


KONTAK



Branch Development
Jl.Sukamaju Perum Sinar Lestari II / 14.A
Landasan Ulin Km 22,5 Banjarbaru Kalsel
Telp : 0511.6.35.36.37
Gsm : 0812.5121.1979
Email : fingerprintconsulting@yahoo.co.id


Copyright © FINGERPRINT CONSULTING All Rights Reserved • Design by Dzignine
best suv • audi suv • infiniti suv